Keutamaan Puasa Ramadhan
Oleh : Zulfatmai, S.Ag, Penghulu Madya Kantor Kemenag Kabupaten Solok
Pemerintah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis 19 Februari 2026 besok. Itu artinya nanti malam kita memulai solat Tarwih dan dinihari nanti adalah Sahur pertama.
Puasa bukanlah ibadah baru, puasa adalah identitas Muslim yang ditegaskan dalam rukun Islam. Untuk memperrat keimanan kepada Allah SWT, menjelang Ramadhan ini mari kita kaji kembali tentang Keutamaan Puasa, semoga kita mendapatkannya sebagai upaya meningkatkan keimanan menuju ketaqwaan.
Puasa secara Bahasa.
Secara bahasa Pengertian Siyam/ puasa: secara bahasa (lughah) الصِّيَام berasal dari kata صَامَ – يَصُومُ yang bermakna: الإِمْسَاكُ عَنِ الشَّيْءِ menahan diri dari sesuatu. Karena itu, dalam bahasa Arab, ṣiyām bisa digunakan untuk menahan diri dari makan, berbicara,atau menahan dari perbuatan tertentu.
Dalil lughawi, ِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا QS .(Maryam: 26) yang bermakna menahan diri dari berbicara.
Secara syariat (istilah), para ulama mendefinisikan ṣiyām sebagai berikut:
الإِمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ طُلُوعِ الْفَجْرِ إِلَى غُرُوبِ الشَّمْسِ مَعَ النِّيَّةِ
Artinya: Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari disertai niat.
Unsur penting dalam definisi syar‘I, Menahan diri (imsāk), dari pembatal-pembatal puasa, waktu tertentu (fajar–maghrib), dengan niat.
Keutamaan Puasa
Berbeda dengan ibadah lain yang pahalanya berkisar antara sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, puasa memiliki keistimewaan khusus. Merujuk pada Hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ فَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفِ إلا الصِّيَامَ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ إِنَّهُ يَتْرُكُ الطَّعَامَ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِ وَيَتْرُكُ الشَّرَابَ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي فَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِى بِهِ [رواه الدارمي وأحمد]
“Dari Abū Hurairah r.a. [dilaporkan bahwa] ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Allah Ta‘ala berfirman: Setiap amal anak Adam (manusia) adalah untuk dirinya, dan ganjaran kebaikan itu dilipatkan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Dia adalah untuk-Ku dan Aku yang membalasnya (dengan tanpa batasan). Orang yang berpuasa itu meninggalkan makanan dan syahwatnya demi Aku, dan meninggalkan minuman dan syahwatnya demi Aku. Maka puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku membalasnya.” [HR adDārimī].
Dengan puasa seseorang bertaqarrub kepada Allah
Perlu diketahui, bahwa ber-taqarrub kepada Allah tidak dapat dicapai dengan meninggalkan syahwat ini -yang selain dalam keadaan berpuasa adalah mubah- kecuali setelah ber-taqarrub kepada-Nya dengan meninggalkan apa yang diharamkan Allah dalam segala hal, seperti: dusta, kezhaliman dan pelanggaran terhadap orang lain dalam masalah darah, harta dan kehormatannya.
Untuk itu, Nabi bersabda :
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
."Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya dari makan dan minum." (HR. Al-Bukhari).
Inti pernyataan ini, bahwa tidak sempurna ber-taqarrub kepada Allah Ta'ala dengan meninggalkan hal-hal yang mubah kecuali setelah ber-taqarrub kepada-Nya dengan meninggalkan hal-hal yang haram.
Dengan demikian, orang yang melakukan hal-hal yang haram kemudian ber-taqarrub kepada Allah dengan meninggalkan hal-hal yang mubah, ibaratnya orang yang meninggalkan hal-hal yang wajib dan ber-taqarrub dengan hal-hal yang sunat.
Jika seseorang dengan makan dan minum berniat agar kuat badannya dalam shalat malam dan puasa maka ia mendapat pahala karenanya. Juga jika dengan tidurnya pada malam dan siang hari berniat agar kuat beramal (bekerja) maka tidurnya itu merupakan ibadah.
Jadi orang yang berpuasa senantiasa dalam keadaan ibadah pada siang dan malam harinya. Dikabulkan do'anya ketika berpuasa dan berbuka. Pada siang harinya ia adalah orang yang berpuasa dan sabar, sedang pada malam harinya ia adalah orang yang memberi makan dan bersyukur.
Syarat mendapat pahala puasa
Di antara syaratnya, agar berbuka puasa dengan yang halal. Jika berbuka puasa dengan yang haram maka ia termasuk orang yang menahan diri dari yang dihalalkan Allah dan memakan apa yang diharamkan Allah, dan tidak dikabulkan do'anya.
Orang berpuasa yang berjihad
Perlu diketahui bahwa orang mukmin pada bulan Ramadhan melakukan dua jihad, yaitu Jihad untuk dirinya pada siang hari dengan puasa dan Jihad pada malam hari dengan shalat malam.
Dalam Kitab . Lathaa'iful Ma 'arif, oleh Ibnu Rajab, him. 163,165 dan 183. Barangsiapa yang memadukan kedua jihad ini, memenuhi segala hak-haknya dan bersabar terhadapnya, niscaya diberikan kepadanya pahala yang tak terhitung.
Semoga kita meraih keutamaan puasa dan Ramadhan 1447 H adalah Alla SWT kesempatan untuk memperbaiki keimanan dan meningkatkan ketaqwaan.